Kamis, 26 Januari 2012

Media Massa

A.  Perkembangan  Media  Massa

Riset  mengenai  efek media  massa  terus mengalami perkembangan  sejalan dengan  semakin  pesatnya  kemajuan  teknologi  komunikasi  massa.  Efek  yang  ditimbulkan  oleh  media  massa  merupakan  konsekuensi  yang  harus  diterima  khalayak  sebagai individu  yang  mengkonsumsi  media  dan  terkena  terpaan  media  massa.

Sejauhmana efek tersebut bersifat konstruktif ataupun destruktif, berikut ini dikemukakan berbagai perkembangan riset mengenai efek media dan teori-teori yang berhubungan dengan terpaan media massa.
Salah  satu  revolusi  dramatik  yang  dialami  oleh  umat  manusia  adalah  revolusi  informasi.  Revolusi  informasi  telah  membawa  ke  arah  perkembangan  industri  media  massa  yang  menjadi  pemicu  peubahan tradisi  umat  manusia  dari  tradisi  lisan  menjadi  tulisan.  Perubahan  sosial masyarakat  dengan  adanya  perkembangan  media  massa,  memunculkan  kesadaran  bagi  manusia  untuk  turut  aktif dalam  menentukan  seperti  apa masyarakat  harus dibentuk.  Kesadaran  kultur  baru manusia  akibat  perkembangan  industri  media  massa  membeikan  suatu  era  baru  yaitu  pembentukan  masyarakat  modern.

Kaitannya  dengan  perkembangan  media  massa,  Mc.Quail  (1987:  9-18)  membahas  empat  unsur utama  yaitu,  teknologi,  situasi  politik,  sosial  dan  ekonomi masyarakat.  Keseluruhan berinteraksi  dengan  cara  yang  berbeda  dan  dengan  keunggulan  masing-masing  dan  dalam  media   yang  berbeda.  Menurut  perkembangannya,  bentuk-bentuk  sarana media  dimulai  dengan  media  cetak,  film,  siaran  radio  dan  televisi  sampai  munculnya  media  elektronik  baru  seperti  teleteks,  videoteks,  video  komputer,  internet  dan  yang  lainnya.  Lahirnya  media  cetak  sebagai  media    modern,     diawali     dengan penemuan mesin cetak oleh J. Guthenberg. Menurut McQuail,  awalnya  percetakan  buku  hanyalah  merupakan  upaya  pengunaan  alat  teknik  untuk  memproduksi  teks  yang  sama,  secara  besar-besaran.

Pada  abad  ketujuh  belas  muncul  surat  kabar  yang  merupakan  gabungan  antara  pihak  percetakan  dengan  pihak  penerbitan.  Dibanding  dengan  buku  cetak,  surat kabar  memiliki  tingkat  inovasi  yang  lebih tinggi.  Kekhususan  surat  kabar  dibanding  dengan  sarana  komunikasi  budaya  lainnya  terletak  pada  individualisme,  berorientasi  pada  kenyataan,  kegunaan  dan  sekularitas  serta  kecocokan  dengan  tuntutan  kebutuhan kelas  sosial  yang  baru.  Sejalan  dengan  perkembangannya  maka  surat  kabar  menjadi  komersil  dan  mempunyai  dua  fungsi  umum  yaitu  :
  1. Merupakan  sumber  informasi  tentang  apa  yang  sedang  terjadi  di  dunia dan  daerah  setempat.  Fungsi  ini  tidak  hanya  terbatas  pada  tajuk          rencana  tetapi  juga  berita  mengenai  politik,  ekonomi  dan  sosial.
  2. Sebagai  sarana  hiburan,  untuk  fungsi  ini  biasanya  dilakukan  oleh Kelompok muda dan kelompok  dengan  tingkat  pendidikan  yang  terbatas,  yang  membaca  rubrik  seni,  olah  raga  dan  komik.  (Devito,  1997:  511).
Sebelum  kemunculan  televisi,  radio  merupakan   sistem  komunikasi  yang  paling  dominan.  Hal  yang  mesti  digarisbawahi  bahwa  kemunculan  radio  merupakan  teknologi  yang  mencari  kegunaan  dan  bukan  lahir  sebagai  respon  terhadap  sesuatu  kebutuhan  pelayanan  baru. (McQuail,  1987:15).  Menurut  Raymond  Williams  (1975)  radio  dan  televisi  merupakan  sistem  yang dirancang  untuk  kepentingan  transmisi  dan  penerimaan  yang  merupakan  proses  abstrak, yang  batasan  isinya  sangat  terbatas  atau  bahkan  sama  sekali tidak  ada.

Setelah  kemunculan  televisi,  maka  peran  radio  mulai  berkurang.  Televisi  menjadi  media  yang  poluler  dan  tersebar  dipelosok  penjuru  dunia  termasuk  Indonesia.  Dari  berbagai  media  yang  hadir,  televisi  merupakan  merupakan  media  yang  sangat  fleksibel  dan  ideal  sekaligus  unik.  Televisi  masuk  hampir  ke setiap  rumah dan  memberikan  pengajaran,  tontonan  juga  tuntunan  kepada  setiap  individu  sejak  bayi  hingga  dewasa.

B.  Fungsi  Media  Bagi  Individu  dan  Masyarakat

Seperti  telah  diketahui  bahwa  media  mempunyai  fungsi  yang  koherent  dalam  melakukan  perannya  sebagai  saluran  mediasi.  Menurut  Lasswell  (1948),  ada  tiga  fungsi  utama  media massa  dalam  masyarakat,  yaitu  :  (1)  pengawas  lingkungan (survaillance  of  environment),  (2)  korelasi antar  bagian-bagian  dalam  masyarakat  dalam  memberikan  reaksi  terhadap  lingkungan  (correlation  of  the  parts  of  society  in  responding  to the  environment),  (3)  Transmisi  warisan  sosial  budaya,  yang dilakukan  secara  berkesinambungan yang  berhubungan  dengan  penyampaian  informasi  dari generasi  ke  generasi  berikutnya  (Transmition of  the  social  heritage  of  generation  to  the  next).   Wright  (1986)  menambahkan  fungsi  media  keempat  ke  dalam  daftar  yang  telah  dibuat  oleh  Lasswell  (1948),  yaitu  sebagai  sarana untuk  memperoleh  hiburan,  disamping  ia  juga melihat adanya  fungsi  atau  efek  positif  dan  disfungsi  atau  efek  negatif media.  Kemudian  Rivers,  Schramm  dan  Clifford  (1980)  menambahkan  satu  fungsi  lagi  yaitu  sarana  iklan.

Lazarfeld  dan  Merton  (1951)  mengemukakan  fungsi  media lainnya,  yaitu  dalam  pemberian  status  (status  conferral).  Menurutnya  jika  seseorang  menjadi  penting,  maka akan  diperhatikan  oleh  media,  dan jika  seorang  diperhatikan  oleh  media,  maka  pasti seseorang  tersebut  adalah  orang  penting.

Mac Quail  dan  kawan-kawan  (1970)  menyimpulkan  fungsi  media  bagi  individu  sebagai  berikut :

1.  Berfungsi  sebagai  informasi.  Disini media  dijadikan  sarana,  antara lain untuk  mencari  berita  tentang  perisriwa  dan  kondisi yang  berkaitan  dengan    lingkungan  terdekat,  masyarakat  dan  dunia.  Disamping  itu,  media  dapat dijadikan  tempat  untuk  memperoleh  bimbingan  yang  menyangkut  berbagai  masalah  – masalah  praktis,  pendapat  dan  segala  hal  yang berhubungan  dengan  penentuan  pemilihan.  Media  juga  dapat  memuaskan  rasa  ingin  tahu  dan  minat  umum  serta untuk  memperoleh  rasa  damai  melalui  penambahan  pengetahuan.

2.  Berfungsi  sebagai  identitas  pribadi,  dengan  menemukan  penunjang   nilai- nilai  pribadi,  menemukan  model  perilaku  sehingga  meningkatkan pemahaman tentang   diri  sendiri.

3. Berfungsi  sebagai  integrasi  dan interaksi  sosial,  dengan  memperoleh  pengetahuan  tentang  keadaan  orang  lain,  akan  menimbulkan  rasa  empati     dalam  lingkungan   sosial,  juga  mengidentifikasikan  diri  dengan  orang lain  dan   meningkatkan rasa  kemampuan.  Media  juga dapat  dijadikan  sebagai  bahan  percakapan   dalam  berinteraksi  sosial,  memperluas  pergaulan,  dan  membantu  menjalankan  peran  sosial  dalam  masyarakat  dan  memungkinkan  seseorang untuk menghubungi  sanak  keluarga,  teman  dan  masyarakat.

4. Berfungsi sebagai  hiburan, antara  lain  media  yang  menyediakan  hiburan  untuk  melepaskan  diri  dari  rutinitas  kegiatan,  bersantai  untuk  memperoleh kenikmatan  jiwa  dan estetis,  menghilangkan  kepenatan,  mengisi  waktu,  meluapkan  emosi.

Josep  Devito  (1997)  mengungkapkan,  bahwa  salah  satu  fungsi  media  yang  banyak  dilupakan  adalah  fungsi  membius  (narcotizing).  Hal  ini  dilihat,  jika  media  menyajikan  suatu informasi,  penerima  akan  percaya  bahwa  tindakan tertentu  telah  diambil.  Salah  satu  contoh  fungsi yang membius  adalah  kehadiran  telenovela  di televisi  yang  ditayangkan  secara  bersambung  setiap  hari,  dengan  tema  perselingkuhan,  kekerasan  dan  berbagai  tema  sterotipe,  yang  membius  khalayak  untuk  terus  mengikuti  tayangan  tersebut.

Katz  Blumer  dan  Gurevitch  (1974)  mengemukakan  bahwa  fungsi-fungsi  tersebut,  belum  cukup  menggambarkan  keseluruhan  jajaran  fungsi-fungsi  yang  mungkin  ada. Oleh  sebab  itu  para peneliti  mencoba  mengumpulkan  sebanyak  mungkin  fungsi-fungsi  media  dalam  masyarakat.

Penggambaran mengenai  fungsi-fungsi  media,  erat kaitannya  dengan  penggunaan  media  bagi  individu  dan  masyarakat,  seperti  tentang  apa  yang  mendorong  individu  memfaatkan  media  dan  apakah  media  massa  dapat  memenuhi  kebutuhan  individu.  Katz,  Blumer  dan  Gurevitch  (1974) menggunakan  pendekatan  uses and gratification,  yang  meneliti  kebutuhan  dari  sudut psikologi  dan  sosial yang  menimbulkan  harapan  tertentu  dari,  dan mengakibatkan  pola  terpaan  media  yang  berlainan  diantara  individu.  Ada  beberapa  asumsi  dasar  yang  dikemukakannya  melalui  pendekatan uses and gratification  yaitu :
  1. Khalayak  dianggap  aktif, artinya  sebagian  penting  dari  penggunaan media  massa diasumsikan  akan  mempunyai  tujuan  atau  akan  memberi  manfaat.
  2. Dalam  proses  komunikasi  massa  banyak  inisiatif  untuk  mengaitkan  pemuasan kebutuhan  dengan  pemilihan  media  terletak  pada  anggota  khalayak.
  3. Media  massa  harus  bersaing  dengan  sumber-sumber  lain  untuk  memuaskan  kebutuhannya.  Kebutuhan  yang  dipenuhi  media hanyalah  bagian  dari  rentangan  kebutuhan  manusia  yang  lebih  luas.  Bagaimana  kebutuhan  ini  terpenuhi  melalui  konsumsi  media  amat  tergantung  kepada  perilaku  khlayak  bersangkutan.
  4. Banyak tujuan  dalam  memilih  media  massa  yang  disimpulkan  dari  data yang diberikan oleh  anggota  khalayak;  artinya  orang  dianggap  cukup  mengerti  untuk  melaporkan  kepentingan  dan  motif  pada  situasi  tertentu.
  5. Penilaian  tentang arti  kultural  dari  media  massa  harus  ditangguhkan  sebelum  diteliti  lebih  dahulu  orientasi  khalayak.  (Blumer dan Katz,  1974).
Rubin  (1993)  mengemukakan  bahwa  ada  2  tipe  orientasi  berbeda  dari  khalayak   dalam  menggunakan  media,  yaitu  media  sebagai  “ritualized”  penggunaan  media  berdasarkan  kebiasaan  (habit)  dari  “instrument”  yaitu  penggunaan  media yang dilakukan berdasarkan  pemilihan  secara  selektif.

Katz,  Gurevit  dan Hazz  (1973)  menyatakan  bahwa  khalayak  dalam  menggunakan  media  adalah  dengan  alasan  untuk  pemenuhan  kebutuhan  (motivasi)  yaitu :
  1. Motif  kognitif  yaitu  menekankan  pada  adanya kebutuhan  manusia  akan informasi dan kebutuhan  untuk  mencapai  tingkat  emosional  tertentu.
  2. Motif  afektif  menekankan  pada  aspek  perasaan yang  berhubungan  dengan  estetika,  kesenangan  dan  pengalaman  emosional.
  3. Integrasi  pribadi  yaitu kebutuhan  yang  berhubungan  dengan  kredibilitas,  keyakinan  dan  stabilitas  serta  status  secara  individu.
  4. Integrasi  sosial  yaitu  kebutuhan  yang  berhubungan  dengan  hubungan  keluarga,  sahabat  dan  dunia  luar.
  5. Pelarian,  yang  berhubungan  dengan  keinginan  untuk  menghindarkan  diri  dari  tekanan,  meredakan  ketgangan  dan  keinginan  untuk  mengalihkan  perhatian.
C. Pengaruh Media Massa Terhadap Khalayak


Dalam  proses  komunikasi  pada  awalnya  khalayak  atau  penerima  pesan  dianggap  sebagai  individu-individu  yang  pasif  dan  menerima  pesan  apapun  yang  disampaikan  oleh  media  massa,  karena  itu  riset  komunikasi  massa  umumnya  berkaitan  dengan  efek  komunikasi massa.  Dalam  melihat efek  komunikasi  massa  terhadap  individu  atau  khalayak  ada  tiga teori  yang  digunakan  yaitu :

1.  Stimulus- Respon  

Prinsip  stimulus  respon  pada dasarnya  merupakan suatu  prinsip  belajar yang sederhana,  dimana  efek  dianggap reaksi   terhadap    stimulus     tertentu. Elemen-elemen utama dari teori ini adalah, pesan (stimulus),  penerima (receiver) dan  efek  (respon).  Prinsip  stimulus – respon  merupakan  dasar  dari  teori   jarum hipodemik (hypodermik needdle theory).  Isi  media  dipandang  sebagai  obat  yang  disuntikan  kedalam  pembuluh  darah  khalayak,  dan  diasumsi akan  bereaksi  sesuai  dengan  apa  yang  diharapkan.  (Sendjaja:  1998:189).  Stimulus respon  juga  sejalan  dengan  Bullet Theory  yang  beranggapan bahwa,  proses  komunikasi  dapat  dilihat  seperti  peluru  yang  dapat menghantarkan  ide-ide,  perasaan  atau  pengetahuan  atau  motivasi  hampir  secara otomatis  dari  satu  individu  ke  individu  lainnya (Schramm dan Roberts,  1974).

De  Fleur  (1970)  melakukan  modifikasi  terhadap  teori  stimulus-respon dengan  teori individual difference  atau  perbandingan  individu.  Di sini  diasumsikan  bahwa  pesan-pesan  media  berisi  stimulus  tertentu  yang  berinteraksi secara  berbeda-beda  dengan  karakteristik  pribadi  para  anggota  khalayak.

2.   Komunikasi dua tahap

Pada tahun 1940 Lazarfeld dan kawan-kawan melakukan penelitian mengenai efek media dalam kampanye pemilihan Presiden Amerika Serikat di kota Ohio. Hasil penelitinnya menunjukkan, bahwa efek media tidak sehebat seperti dugaan selama ini, sebagaimana yang ditunjukkan dalam teori komunikasi massa. Kalaupun ada pengaruh, maka pengaruh itupun sangat kecil. Kebanyakan pemilih menentukan pilihannya dari hasil berkomunikasi dengan kawan, tetangga, pemimpin serikat kerja, suami atau lainnya.
Kesimpulan penelitian tersebut adalah :
  1. Peran media hanya mempertegas pilihan yang sudah ditentukan sebelumnya dan bukan mempengaruhi.
  2. Pengaruh media atas keputusan pemilih dalam menentukan  calon yang akan dipilih ternyata sangat kecil.
  3. Perubahan sikap yang terjadi terhadap calon yang akan dipilih ternyata juga dipengaruh ikatan atau tekanan kelompok agama tertentu, jadi bukan karena pengaruh media, karena media massa ternyata hampir tidak berpengaruh. Media massa lebih berfungsi sebagai penguat keyakinan yang sudah ada, yang ternyata lebih berpengaruh adalah pemuka pendapat (opinion leader) melalui komunikasi antar pribadi.
Berdasarkan temuannya itu, Lazarfeld menggagas hipotesisi baru yang disebut “ two – step – flow” atau komunikasi dua tahap, yang sangat popular sejak tahun 1950-an.

D.    Pengaruh Media Massa Terhadap Masyarakat Dan Budaya

Penelitian mengenai efek media massa mengalami perkembangan, setelah De Fleur (1970) mengembangkan pemikiran mengenai efek media, dengan memasukkan variabel norma budaya. Teori ini disebut “cultural norms”  yang beranggapan bahwa media tidak hanya memiliki efek langsung terhadap individu tetapi juga mempengaruh kultur, pengetahuan kolektif, dan norma-norma serta nilai-nilai dalam suatu masyarakat.
Bagian teori ini, meneliti proses efek yang memiliki karakteristik yaitu efek yang berlangsung untuk jangka waktu yang lama, umumnya tidak terencana dan bersifat tidak langsung dan kolektif. Beberapa teori penting yang berkaitan dengan norma budaya seperti teori Agenda Setting, teori Dependensi, teori Spiral of Silence dan teori Kultivasi.

Diawal tahun 1970-an  McCombs mengkaji efek media massa terhadap khalayak dan memperkenalkan suatu teori yang disebut “ Agenda Setting” . Asumsi dari teori ini bahwa pengaruh media tidak langsung tetapi apa yang membuat manusia berpikir, ini adalah penting dan kemudian memikirkannya. Bahwa media mempengaruhi manusia tidak dengan mengatakan apa yang dipikirkan tetapi bercerita mengenai apa yang dipikirkan. Inti pemikiran dari teori agenda setting berkaitan dengan fungsi belajar dan media massa. Khalayak tidak hanya mempelajari isu-isu yang diberitakan media, tetapi juga mempelajari seberapa besar arti penting diberikan pada suatu isu atau topik berdasarkan cara media memberikan penekanan terhadap isu tersebut.

Berbagai penelitian mengenai agenda setting, menunjukkan adanya perbedaan hasil penelitian diantara peneliti. Chaim H.Eyal menulis bahwa penelitian mengenai peran agenda setting pada televisi berbeda dengan surat kabar. Tintion, Benton dan Fraizer serta Muller menemukan bahwa agenda media cetak seperti surat kabar lebih sering ditentukan sesuai dengan agenda publik dibanding dengan media televisi.  Sedang McCombs dan Shaw (1972) menemukan tidak ada perbedaan antara agenda setting televisi dan surat kabar.

Penelitian yang dilakukan oleh Palmgreen menemukan dukungan parsial terhadap hipotesis bahwa surat kabar menunjukkan efek agenda setting yang lebih kuat dibanding televisi. Kajian mengenai isi televisi tentang pemilihan Presiden Amerika Serikat pada tahun 1972 yang dilakukan oleh Patterson dan McClure menyimpulkan bahwa televisi memiliki pengaruh yang minimal terhadap kesadaran publik tentang isu-isu dan persepsi mengenai citra kandidat presiden. Sebaliknya iklan politik dinilai sebagai faktor yang meningkatkan kesadaran khalayak terhadap posisi kandidat Presiden. Hal ini sejalan dengan penemuan McCombs dan Bowers bahwa iklan politik pada televisi memainkan peran agenda setting yang berbeda dengan informasi televisi.

Hipotesis agenda setting yang dijelaskan oleh Carey (1976) yang mengkaji agenda setting dari tiga jaringan televisi nasional, tiga majalah national dan tiga surat kabar nasional, menemukan bahwa liputan pers lintas media berlaku sangat konsisten, dan isu agenda media sama dengan isu agenda publik. Jika efek yang dihasilkan tidak sama, maka pengaruh yang berbeda dari kedua jenis media dijelaskan oleh faktor teknologi, format dan pola penggunaan media oleh khalayak. Penjelasan mengenai teori agenda setting, dapat diketahui sejauhmana media massa baik itu surat kabar, televisi ataupun media lainnya, dapat mempengaruhi masyarakat dan budayanya.

Weaver dan Buddeman (1955) membuat studi ulang mengenai penggunaan dan efek surat kabar dan televisi. Hasilnya ditemukan bahwa orang mengangap surat kabar dan televisi bermanfaat dan kedua media tersebut digunakan untuk saling melengkapi dalam memenuhi kebutuhan pengalihan (diversion) dan pengetahuan (knowledge).

Sandra B.Rokeach dan Melvin (1972) mengembangkan suatu teori yang disebut sebagai teori dependensi. Fokus teori ini pada kondisi struktural suatu masyarakat yang mengatur kecenderungan terjadinya suatu efek media massa.

Asumsi dasar dari teori ini adalah :
  1. Dalam masyarakat modern, khalayak menjadi tergantung pada media          massa sebagai sumber informasi.
  2. Ketergantungan pada media massa sebagai sumber informasi      berpengaruh pada dampak kognitif dan afektif yang terjadi pada  khalayak.
  3. Ketergantungan khalayak terhadap media massa dipengaruhi oleh sejumlah kondisi struktural terutama yang berkaitan dengan tingkat stabilitas.
  4. Kondisi sruktural masyarakat ini secara timbal balik akan berpengaruh terhadap apa yag dilakukan media  (fungsi) dalam hal jumlah, diversitas, reabilitas dan otoritasnya dalam pelayanan infomasi kepada khalayak.
Selanjutnya efek yang mungkin dipelajari dari teori dependensi ini adalah :
  1.   “Efek Kognitif”, seperti menciptakan atau menghilangkan ambiguitas dan   pembentukan sikap.
  2. “Efek Afektif”, seperti menciptakan ketakutan ataupun kecemasan, meningkatkan atau menurunkan dukungan moral.
  3. “Efek Behavioral”, seperti mengaktifkan atau meredakan pembentukan    isu    tertentu atau mencarikan penyelesaiannya. (Sendjaja, 1998: 201).
Menurut Steven M.Chaffee (dalam Wilhoit dan Harold de Bock, 1980:78) ada tiga pendekatan dalam melihat efek media massa yaitu :
  1. Kelompok, masyarakat atau bangsanya melihat efek media massa itu  sendiri.
  2. Melihat jenis perubahan yang terjadi pada diri khalayak, komunikasi massa, penerimaan informasi, perubahan perasaan atau sikap, perubahan perilaku yang diistilahkan sebagai perubahan kognitif, afektif dan behavioral.
  3. Melihat satuan observasi yang dikenai efek media massa baik individu, Chaffee juga menyebutkan lima efek media masa yaitu efek ekonomis, efek sosial, efek pada penjadwalan kegiatan, efek pada penyaluran/penghilangan rasa tertentu dan efek perasaan orang terhadap media.
Klapper (1960), melaporkan hasil penelitiannya mengenai efek atau pengaruh media massa, dalam kaitannya dengan pembentukan sikap yaitu :
  1. Pengaruh komunikasi massa diantarai oleh faktor-faktor seperti predisposisi personal, proses selektif, keanggotaan kelompok (atau hal lain yang bukan faktor personal).
  2. Komunikasi massa biasanya berfungsi memperkokoh sikap dan pendapat yang ada, meskipun terkadang berfungsi sebagai agen pengubah.
  3. Jika komunkasi massa menimbulkan perubahan sikap, perubahan kecil pada intensitas sikap lebih umum terjadi, daripada perubahan sikap secara keseluruhan.
  4. Komunikasi massa cukup efektif dalam mengubah sikap pada bidang-bidang di mana pendapat individu lemah, misalnya pada iklan komersil.
  5. Komunikasi massa efektif dalam menciptakan pendapat tentang masalah-masalah baru bila tidak ada predisposisi yang harus diperkuat. (Oskamp, 1977).
Ball Rokeach dan DeFleur (1976) mengemukakan bahwa ada tiga komponen yaitu audiens, system media dan system social  yang saling berhubungan satu dengan lainnya dan sifat ini berbeda antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya

Sosiolog Jerman Elizabeth Noelle-Newman pada tahun 1974 mengembangkan suatu teori spiral of silence atau spiral kebisuan yang berkaitan dengan pertanyaan bagaimana terbentuknya pendapat umum. Teori ini menjelaskan suatu proses saling mempengaruhi antara komunikasi massa, komunikasi antar pribadi dan persepsi individu atas pendapatnya sendiri dalam hubungannya dengan pendapat orang lain dalam masyarakat. Teori ini menyatakan bahwa pendapat pribadi sangat tergantung pada apa yang menjadi pikiran orang lain.

Di sini individu berusaha untuk menghindari isolasi dalam arti sendirian mempertahankan sikap. menurut teori ini, individu akan mengamati lingkungannya untuk mempelajari pandangan yang populer dan tidak populer. Jika seseorang beranggapan bahwa pandangannya tidak populer, maka cenderung akan bersikap untuk tidak mengekspresikan pandangannya.

Berdasarkan teori-teori diatas, menggambarkan, bahwa media turut berpengaruh dalam membentuk pola pemikiran, sikap dan perilaku masyarakat yang berarti juga turut mempengaruhi pembentukan dan perkembangan budaya.

E.    Konsep Persepsi 

Pengertian persepsi diterangkan Ensiklopedi Indonesia merupakan “proses mental yang dapat menghasilkan bayangan pada diri individu, sehingga dapat mengenal dengan jalan asosiasi pada suatu ingatan tertentu, baik secara indera penglihatan, indera perabaan, dan sebagainya sehingga akhirnya bayangan itu disadari.” (Ensiklopedia Indonesia, Ichtiar Baru Va Hoeve, buku 5, Jakarta, 1984 : 2684)

Berelson dan Steiner memberikan pengertian persepsi sebagaimana dikutip Werner J. Severin dan James W. Tankard (1979 : 129) dalam “Communication Theories, Origins, Methods, Uses” sebagai “ A recent definition states that perception is the ‘complex process by which people select, organize and interpret sensory stimulation into a meaning and coherent picture of the wolrd” (persepsi merupakan suatu proses yang kompleks di mana orang-orang menyeleksi, mengorganisir, menafsirkan rangsangan indrawi ke dalam artian yang bertalian dengan gambaran keadaan saat ini.

Sedangkan Jalaluddin Rakhmat mengatakan bahwa persepsi adalah pengalaman tentang obyek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.  (Rakhmat, 1985 :176). Onong Uchjana Effendy juga memberikan pengertian tentang persepsi sebagai penginderaan terhadap suatu kesan yang timbul dalam lingkungannya; penginderaan itu dipengaruhi oleh pengalaman, kebiasaan dan kebutuhan. (Uchjana Effendi, 1977)

Dalam konteks ini, persepsi diberi pengertian sebagai kemampuan seseorang untuk menafsirkan atau menyimpulkan sesuatu pesan secara indrawi. Menafsirkan atau menyimpulkan sesuatu pesan berarti memberikan pendapat atau penilaian terhadap pesan tersebut.

Menurut Everett M. Rogers dan F. Floyd Shoemaker (1971), bahwa kemampuan seseorang dalam menafsirkan sesuatu pesan dapat dikaji dari selective exposure dan selective perception. Selective exposure  adalah kecenderungan seseorang untuk menangkap atau memperhatikan pesan-pesan komunikasi yang sesuai dengan kebutuhannya, sikap, dan kepercayaan, sehingga pesan-pesan yang tak berkaitan dengan dirinya akan dilewatkan begitu saja, tidak diperhatikan. Sedangkan selective perception adalah kecenderungan seseorang untuk menafsirkan pesan-pesan komunikasi menurut sikap dan kepercayaan sendiri atau pengetahuan dan pengalaman yang ada padanya.

F.     Konsep Realitas Sosial

Studi mengenai realitas sosial dilakukan oleh ahli sosiologi Peter L.Berger. Menurutnya, realitas sosial adalah suatu kualitas yang terdapat fenomena-fenomena yang kita akui memilik keberadaan yang tidak tergantung pada kehendak kita (Berger dan Thomas Luckman 1989). Menurutnya, ada 4 (empat) asumsi yang mendasari pemikiran tentang kostruksi realitas sosial, yaitu :
  1. Suatu kejadian (realitas) tidak hadir dengan sendirinya secara obyektif atau dipahami melalui pengalaman yang dipengaruhi oleh bahasa.
  2. Realitas dapat dipahami melalui kategori-kategori bahasa secara situasional, yang tumbuh dari interaksi social pda saat dan tempat tertentu.
  3. Bagaimana suatu realitas dapat dipahami, ditentukan oleh konvensi-konvensi komunikasi, yang dilakukan pada saat itu. Oleh karena itu, stabil atau tidaknya pengetahuan lebih tergantung pada variasi kehidupan sosial dan pada realitas obyektif diluar pengalaman.
  4. Pemahaman terhadap realitas yang tersusun secara sosial membentuk banyak aspek-aspek penting lain dari kehidupan. Bagaimana berpikir dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari pada dasarnya merupakan persoalan bagaimana kita memahami realitas kita. (Sendjaja, 1994:325).
Hanna Adoni dan Mane dalam artikelnya yang berjudul “Media and Construction of  Social Reality “ membagi realitas dalam tiga bagian, yaitu :
  1. Realitas sosial obyektif, yaitu gejala-gejala sosial yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari dan sering dihadapi oleh individu sebagai fakta.
  2. Realitas sosial simbolik , yaitu bentuk-bentuk simbolik dari realitas sosial obyektif, yang biasanya diketahui oleh khalayak dalam bentuk karya seni, fiksi dan isi media.
  3. Realitas sosial  subyektif, yaitu realitas sosial yang terbentuk pada diri khalayak yang berasal  dari realitas sosial obyektif dan realitas simbolik. Jadi reaitas realitas sosial subyektif merupakan perpaduan antara realitas obyektif dan realitas simbolik.
Individu menerima realitas sosial berdemensi obyektif melalui proses sosialisasi dalam kehidupan sehari-hari, ternyata tidak semua realitas sosial itu dapat diterima oleh setiap individu, dan setiap individu menerimanya secara terbatas. Keadaan ini menyebabkan individu membentuk realitas sosial baru yang berdimensi subyektif.

Artikel Social Reality and Television News, yang dimuat dalam Journal of Broadcacting, 28 (1), 1984, Adoni, Mane dan Cohen meneliti secara simultan mengenai persepsi terhadap konflik sosial, politik dan ekonomi yang terjadi di masyarakat. Hipotesis utama kajian ini didasarkan pada dependency, bahwa tingkat konstribusi media terhadap persepsi mengenai realitas sosial sebuah fungsi pengalaman langsung dengan beragam fenomena sosial dan ketergantungan pada media sebagai sumber informasi. Menurut Adoni (et all), bahwa berdasar pada sosiologis dan literature media, ada tiga dimensi utama yang sering “bias” dalam pemberitaan televisi terhadap   realitas sosial yaitu :

1. Kompleksitas, Fokus pada demensi ini berasal dari argument bahwa liputan berita-berita televisi cenderung untuk menyederhanakan konflik.
Sementara literatur sosiologi beranggapan bahwa beberapa konflik yang terjadi dimasyarkat melalui beberapa tahapa. Televisi hanyamemfokuskan pada tahapan yang tampak saja dan tidak mengungkapkan hal mendasar yaitu penyebab kejadian. Menurut Murdock tipe penyederhanaan ini merupakan hasil dari ‘orientasi kejadian’

2. Intensitas. Dimensi ini berasal dari anggapan bahwa berita-berita televisi cenderung hanya menyajikan dengan lebih mendalam peristiwa konflik sosial. Menurut Tuckman contoh liputan berita yang mengkedepankan intensitas seperti liputan mengenai kerusuhan. Padahal selama priode kerusuhan akan ada masa ketenangan, yang dalam laporan berita biasanya tidak memperhatikan hal ini. Menurut Stuart Hall dalam artikel “A word at one with it self” mengatakan bahwa penggambaran konflik sosial di media massa cenderung menggambarkan actuality without contex dan hanya menekankan pada nada kesan yang gamblang.

 3. Solvabilitas. Demensi ini menekankan pada kesulitan pemecahan   konflik-sosial. Televisi sering menyajikan berita-berita mengenai konflik sosial sebagai kejadian yang dengan segera dapat diatasi. Alferd Schutz menyatakan bahwa, realitas kehidupan sehari-hari saya bukan semata-mata realitas pribadi, tapi berawal dari hubungan antara subyek yang dibagi, dialami, diartikan di antara teman-teman saya. Singkatnya ini adalah suatu realitas bagi kami semua. Dalam situasi biografis yang unik, dimana saya menemukan diri saya dalam realitas pada suatu saat tertentu dari eksistensi saya, hanyalah bagian sangat kecil dari realitas yang dibentuk secara bersama melalui hubungan dengan orang lain. (Sendjaja, 1994)

Berger dan Luckman dalam buku tafsir sosial atas kenyataan (1990) berpendapat bawa proses terbentuknya realitas sosial adalah proses dialektika dimana manusia sebagi produk masyarakat dan masyarakat sebagai produk manusia.

Proses dialektika tercipta dari tiga unsur yaitu :

1.  Obyektivitas. Interaksi sosial dalam dunia inter-subyektif yang dilembagakan atau mengalami proses institusional. Obyektivitas artinya memanifestasikan diri dalam produk-produk kegiatan manusia yang tersedia, baik bagi produsen-produsennya maupun bagi orang lain sebagai unsur-unsur dari dua bersama.

2.  Internalisasi. Dunia sosial yang telah diobyektifikasikan, diasumsikan kembali kedalam kesadaran selama berlangsungnya sosialisasi.

3. Eksternalisasi. Penyesuaian diri dengan dunia sosiokultural sebagai produk manusia. (Peter L.Berger dan Luckman, 1986).
Ogles (1978) mengungkapkan bahwa realitas sosial mengacu pada orientasi individu terhadap dunia nyata yang sebagian berdasarkan pengalaman masa lampau dan observasi sekarang dari individu sendiri dan sebagian lagi berdasarkan pada pengalaman individu yang diperoleh dari saluran antar pribadi dan saluran komunikasi massa.

G.  Televisi Sebagai Pembentuk Realitas Sosial.

Salah satu kajian mengenai tradisi efek media yang berkaitan dengan realitas sosial oleh media adalah analisis kultivasi yang dikembangkan oleh George Gerbner dengan menggunakan indikator budaya.

Awal kajian analisis kultivasi, hanya memfokuskan pada fungsi dan sifat kekerasan di televisi. Meskipun kekerasan terutama berdasarkan pada kekuasaan dunia pertevisian, implikasi serius untuk control sosial dan untuk konfirmasi diabadikan oleh kelompok minoritas. (Gerbner, Gross, Signorielli, Morgan & Jackson Beck, 1979, Morgan, 1983). Pendekatan yang menggunakan indikator budaya meliputi tiga cabang penelitian yaitu :
  1. Proses analisis institusional adalah penyelidikan bentuk dan sistematisasi dari kebijakan langsung  aliran pesan secara besar-besaran.
  2. Analisis sistem pesan meliputi pengujian yang sistematis, sepanjang minggu dengan sample drama televisi dalam tingkat yang dapat dipercaya dan trend dunia kehadiran televisi ditonton oleh khalayak.
  3. Analisis kultivasi menguji respon dengan memberikan pertanyaan mengenai realitas sosial antara sejumlah pengguna televisi. penelitian ini menentukan apakah semakin banyak waktu untuk menonton televisi menjadikan persepsi penonton tentang dunianya merupakan refleksi dunia televisi.
George Gerbner dalam “Cultivation Analysis” : New Direction In Media Effect Reseach, melihat bahwa kultivasi berkaitan erat dengan persepsi mengenai realitas sosial. Televisi memberi kontribusi yang spesifik dan terukur pada konsepsi penonton mengenai realitas. Hipotesis utama dari Gerbner mengenai analisis kultivasi adalah bahwa semakin lama seseorang menghabiskan waktunya di depan televisi akan lebih cenderung membentuk konsepsi realitas soaial yang ditiru diri gambaran televise (Gross dan Morgan, 1985) atau semakin sering orang menonton televisi, maka persepsinya mengenai realitas sosial semakin mirip dengan dunia televisi.

Untuk menguji hipotesis tersebut, Gerbner dan koleganya menganalisa data dari orang dewasa, remaja dan anak-anak perkotaan di Amerika Serikat, dengan menggunakan data dari National Opinion Research Centre (NORC).

Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pemirsa berat (heavy viewers), skor tertingginya ada pada indeks “dunia suram” dibanding dengan pemirsa ringan (light viewers). Data dari orang dewasa dan anak-anak menunjukan bahwa pemirsa berat lebih curiga dan tidak percaya pada orang lain. Serangkaian studi memperkuat penemuan ini dan menemukan bahwa pemirsa berat lebih beranggapan meratanya kelaziman kekerasan dalam masyarakat dan peluang mereka sendiri untuk terlibat dalam kekerasan. (Gerbner & Assosiasi, 1978).

Gerbner mengembangkan dinamika kultivasi dari konsep realitas sosial. Untuk itu Gerbner menggunakan mainstreaming dan resonance.

Dalam tulisan “The Mainstreaming of America: Violence Profile No. 11, Gerbner dan Assosiasi mengungkapkan penelitian yang terdiri dari dua bagian yang saling berhubungan yaitu analisis system pesan dan analisis kultivasi. Analisis sistem pesan adalah monitoring tahunan dari sample prime time dan jaringan dramatik akhir pekan. Sedang analisis kultivasi adalah penyelidikan tentang konsepsi pemirsa tentang realitas sosial yang terjadi akibat adanya pemberitaan yang berulang-ulang dan terus menerus dari televisi.
Konsep  mainstreaming adalah kesamaan pandangan diantara pemirsa berat (heavy viewers). Mainstreaming merupakan pertukaran kebiasaan antara pemirsa berat dalam kelompok demografis, dimana pemirsa ringan (light viewers) memiliki pandangan yang berbeda.

Konsep resonance adalah suatu keadaan, dimana isi media massa dianggap sama dengan realitas. Sebagai contoh, pemirsa yang tinggal di daerah yang memiliki tingkat kejahatan yang tinggi akan beranggapan bahwa apa yang disajikan televisi adalah sama dengan dunia yang sebenarnya.  Realitas televisi dan realitas yang sebenarnya menghasilkan koherensi yang kuat dan pesan televisi akan mengkultivasi secara signifikan. Analisis kultivasi menembus pesan budaya, memunculkan image bahwa televise dapat mengkultivasi kepercayaan ideologi dan pandangan dunia.

Morgan dan Signorielli melihat bahwa, televisi lebih berperan dalam pembentukan persepsi dibanding dengan media lain. Menurut Morgan : Analisa kultivasi mencoba untuk memastikan, jika seseorang banyak menghabiskan waktunya untuk menonton televisi, maka orang akan cenderung untuk menerima dunia nyata seperti yang direfleksikan dan disampaikan secara berulang-ulang oleh televisi.

Elizabeth M.Perse, melakukan kajian mengenai “Cultivation And Involvement With Local television News” tahun 1990. Kajian ini menyelidiki level individu yang menghubungkan terpaan televisi, keterlibatan dan persepsi individual mengenai keamanan diri. Hasilnya menunjukkan bahwa perhatian terhadap berita-berita positip signifikan sebagai penyumbang kultivasi akan persepsi keamanan diri.

H.    Konsep Kekerasan di Televisi

Gerbner, Larry Gross, Nancy dan assosiasinya dalam penelitian “ The Demonstration of Power” : Violence Profile No.10 tahun1980, memfokuskan pada analisis program (antara lain drama televisi) sekitar tahun 1978 – 1979 dan tahun-tahun sebelumnya. Cerita-cerita televisi yang berisi kekerasan yang penayangannya dilakukan dengan frekwensi yang semakin tinggi dan berulang-ulang, utamanya dalam program yang ditujukan untuk anak-anak. 

Kesimpulan yang diambil dari penelitian ini adalah :

Kekerasan merupakan tampilan drama televisi, yang munculnya sering  dan konsisten. Kekerasan yang dimaksud sebagai ekspresi terbuka darikekuatan fisik dengan atau tanpa senjata, terhadap diri sendiri atau  orang lain, memaksakan tindakan terhadap orang lain.   Tampaknya ada ketakutan yang dapat dijustifikasi, bahwa menonton kekerasan di televisi dapat membuat orang-orang utamanya anak-anak, menjadi lebih sering melakukan tindakan kekerasan.

Penelitian ini memperlihatkan korelasi positip antara menonton kekerasan dan agresi diantara remaja dalam kehidupan nyata. Faktor-faktor ini tidak mempengaruhi jenis kelamin dan prestasi di sekolah. Selain itu ditemukan juga, bahwa penonton usia muda yang sering menonton adegan kekerasan menyetujui dan menganggap lumrah untuk memukul orang jika kita sedang marah pada seseorang dengan alasan yang  tepat.

Dalam penelitian mengenai demonstrasi kekuatan ini, dengan tetap menggunakan indikator budaya, ada dua asumsi yang mendasari penelitian Gerbner dan assosiasinya :
  1. Iklan televisi tidak seperti media lain, menampilkan keseluruh dunia nyata dari cerita yang saling berkaitan, yang diproduksi untuk susunan spesifikasi pasar yang lama.
  2. Kebanyakan penonton televisi, menonton dengan cara yang tidak selektif dan sesuai dengan waktu, dibanding dengan mereka yang menonton televisi berdasarkan program. Menonton televisi dianggap sebagai hal ritual seperti agama, kecuali bahwa hal ini dilakukan secara lebih teratur.
Gerbner (1980) menggabungkan kultivasi dengan sifat dan isi yang digambarkan televisi yang berulang-ulang mencerminkan nilai-nilai kepercayaan dan perilaku yang lazim juga terhadap sifat khalayak baik penonton instrumen maupun ritual. Gerbner menghubungkan antara kultivasi dengan sejumlah tayangan kekerasan. Analisa yang dilakukan memperlihatkan remaja heavy viewers melihat dunia dengan penuh kekerasan dan mereka mengekspresikan ketakutan yang lebih besar dibanding light viewers.

Penelitian ini juga menyimpulkan bahwa heavy viewers mempunyai persepsi yang berbeda mengenai realitas sosial dengan light viewers dengan catatan, bahwa faktor  lain diasumsikan tetap.

Frederick Williams (1989) mengomentari hasil penelitian dengan mengatakan heavy viewers seringkali mempunyai sikap yang streotipe tentang peran jenis kelamin, dokter, bandit ata tokoh-tokoh lain yang sering muncul dalam serial televisi.

Menurut Solomon (1983) berdasarkan hasil riset yang dilakukannya, bahwa semakin streotip persepsi atas media, maka akan sedikit usaha yang dibutuhkan untuk membuat dan mengolah persepsi terhadap tayangan media.

I.   Konsep Pornografi

Dalam konteks definisi mengenai pornografi, Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI), mendefinisikan tentang  porno, kp dp pornografi; cabul. Pornografi; (Ing) pelukisan baik dengan gambar atau tulisan secara erotis dengan tujuan membangkitkan nafsu berahi dengan menonjolkan semua yang berbau seks;           ( KUBI, J.S. Badudu dan Sutan Mohammad Zain, 2001 : 1081).

Menurut Webster’s New World Dictionary, kata “pornografi” berasal dari bahasa Yunani yang terdiri atas dua suku kata yaitu Porne dan Graphein. Artinya porne adalah a prostitute; graphein adalah to write (dari kata benda graphe : a drawing, writing). Pornographos adalah writing about prostitutes (penggambaran mengenai pelacuran). Secara harfiah, kamus ini memberikan definisi tentang pornografi sebagai “writing, pictures etc. intended primarily to arouse sexual desire.” Kemudian “ The production of such writings, pictures etc.”

Jurisprudensi Mahkamah Agung RI menjelakan bahwa sesuatu dikatakan porno jika kebanyakan anggota masyarakat menilai – berdasarkan standar nilai yang berlaku saat itu – materi tadi secara keseluruhan dapat membangkitkan nafsu rendah pembacanya.  Di bidang hukum sering digunakan kata “merangsang” atau “membangkitkan nafsu birahi” sebagai unsur pokok pengertian porno. Hakim yang menyidangkan kasus suatu majalah, mengemukakan bahwa salah satu kategori porno adalah gambar atau tulisan yang dapat membangkitkan rangsangan seksual mereka yang membaca atau melihatnya. Pengertian ini sama dengan definisi pornografi menurut The Encyclopedia Americana yaitu gambar, tulisan atau bentuk komunikasi lain yang dimaksudkan untuk membangkitkan nafsu seksual. (Menkominfo,2005)

Berdasarkan definisi, pengertian pornografi tersebut, maka dapat dikatakan kata kunci bahwa sesuatu itu dikategorikan porno adalah “membangkitkan nafsu seksual”. Apa yang dapat membangkitkan nafsu birahi ? adalah pelukisan baik dengan gambar atau tulisan secara erotis dengan tujuan membangkitkan nafsu berahi dengan menonjolkan semua yang berbau seks; tulisan.

Pasal 282 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (ayat 1 dan 2) mendefinisikan pornografi sebagai “kegiatan menyiarkan, mempertunjukkan, atau menempelkan (materi pornogarfi) di muka umum”.

Sementara itu berbagai temuan ilmiah tentang efek, pengaruh dan dampak pornografi terhadap individu dan masyarakat, sebetulnya sudah tersedia dalam literatur sejak tahun 1940-an, namun jarang sekali disebut-sebut atau dikutip dalam berbagai tulisan yang mempersoalkan pornografi. Di Indonesia sendiri, hasil penelitian menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan sikap permisif berbagai kelompok masyarakat terhadap pornografi, termasuk pelajar dan mahasiswa. Misalnya, 28% mahasiswa dan 18% mahasiswi di Universitas Udayana setuju hubungan  seks pra nikah, sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan Pers Kampus universitas tersebut pada tahun 1993. Sementara itu, dari 497 responden siswa salah satu SMA di Yogjakarta, 22% diantaranya setuju terhadap hubungan seks diluar nikah. Kemudian, satu penelitian yang dilaksanakan oleh BAPPENKAR Tk.I Jawa Timur menunjukkan hasil bahwa 42 remaja nakal mengaku pernah melakukan hubungan seks.

Senada dengan temuan itu, hasil penelitian kecil yang dilaksanakan majalah Retorika, media mahasiswa FISIP UNAIR, menunjukkan bahwa para mahasiswa dan mahasiswi di lingkungan kampus itu mengakui adanya praktek prostitusi yang dilakukan oleh sejumlah mahasiswi. (Gayatri: 2005).

Sumber : Studi Dampak Tayangan Kekerasan dan Pornografi di Televisi, Puslitbang APTIKA IKP Balitbang SDM Kemkominfo

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

VIDEO: Brutal, Puluhan Sepeda Diterjang Mobil

VIVAnews - Acara sepeda santai yang digelar 'Critical Mass' di Porto Alegre, Brasil, pada penghujung Februari 2011 kemarin, berubah jadi tragedi.

Puluhan pesepeda bergelimpangan di jalan akibat ulah pengendara mobil, Ricardo Jose Neis.

Saat itu sekitar 130 pesepeda tengah melintas di jalan raya. Mereka baru saja memulai aktivitas ramah lingkungan sesuai misi Critical Mass.

Saat tengah asyik bersepeda, tiba-tiba saja Neis yang mengendarai mobil VW-nya menerjang mereka dari belakang dengan kecepatan tinggi.

Puluhan pesepeda bergelimpangan di jalan akibat ulah pengendara mobil, Ricardo Jose Neis.

Sekitar 20 pesepeda jadi korban. Mereka terpental, bergelimpangan di jalan. Bahkan tidak sedikit di antara mereka tersangkut di kap mobil Neis berikut sepedanya. Para korban mengalami luka ringan maupun berat. Jerit tangis dan teriakan langsung membahana di jalan. Neis pun diamankan polisi.

Sekadar diketahui Critical Mass adalah sebuah acara bersepeda yang biasanya digelar pada hari Jumat terakhir setiap bulan, di lebih dari 300 kota di seluruh dunia.

Saksikan video brutal Neis di sini.

sumber : • VIVAnews http://dunia.vivanews.com/news/read/207196-video--brutal--puluhan-sepeda-diterjang-mobil


Video Tragedi Sepeda di Brazil