Sabtu, 29 Januari 2011

TUNTUNAN SHALAT


Shalat secara lughawi berasal dari bahasa Arab shalla-yushalli-shalaatan, mengandung makna doa atau pujian. Shalat menurut syariat Islam adalah ibadah yang terdiri dari perkataan dan perbuatan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam, dengan syarat tertentu dan rukun tertentu. Shalat hukumnya fardhu ‘ain, selama seseorang hamba masih dapat menghirup udara, selama itu pula kewajiban shalat masih melekat pada dirinya. Allah swt berfirman : “ Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. (QS. An-Nisa [4] : 103). Allah swt juga berfirman : “ Wahai orang-orang yang beriman! Rukuklah, sujudlah, dan sembahlah Tuhanmu; dan berbuatlah kebaikan, agar kamu beruntung”. (QS. Al-Hajj [22] : 77).

Dalam ayat lainnya, Allah juga berfirman : “dan dirikan shalat, sesungguhnya shalat mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar (QS. Al-Ankabut [29] : 45). “Islam itu dibangun atas dasar lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa di bulan Ramadan, serta pergi haji”, (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad dari Ibnu Umar).

Bila dalam ibadah haji Rasulullah saw. bersabda, “Ambillah dariku cara melaksanakan manasik hajimu”, maka dalam shalat Rasullah bersabda, “shalatlah sebagaimana kamu melihat aku shalat”. Rasulullah saw menegaskan bahwa amal perbuatan seorang hamba yang pertama kali akan diperhitungkan pada hari kiamat ialah shalat. “Sesungguhnya yang pertama kali dihisab pada diri hamba pada hari kiamat dari amalannya adalah shalat. Bila baik shalatnya maka ia telah lulus dan berunung, dan bila rusak shalatnya maka ia kecewa dan rugi.” (HR. ash-habus Sunan dari Abu Hurairah).

Ibadah shalat pada dasarnya merupakan ajang untuk mendekatkan hubungan seseorang hamba dengan Allah swt. Dalam Islam, shalat menduduki posisi yang utama daam segala proses peribadatan yang dilakukan seorang hamba kepada Allah. Sesungguhnya shalat adalah tiang agama, benteng kebenaran, pondasi ibadah, dan pintu ketaaan (Imam Ghazali).

Untuk dapat melaksanakan ibadah shalat dengan baik dan sempurna seseorang hamba harus mengerti dan memahami ilmu atau pengetahuan tentang shalat, karena itu Rasulullah mengatakan tentang shalat, jika baik, maka baik pulalah seluruh amalnya, dan jika rusak, maka rusak pulalah seluruh amalnya. Adakalanya, amal ibadah tidak cukup hanya dilakukan dengan memandang syarat-syarat sahnya saja, tetapi juga perlu memperhatikan syarat-syarat penerimaan dan syarat-syarat kesempurnaannya, serta ilmu atau pengetahuan tentang shalat.

Man amala bighairi ilmi, amaluhu mardudatun laa tuqbalu (Al Hadits). Barangsiapa yang beramal tanpa ilmu, maka amalnya tidak diterima dan tidak memberi manfaat. Yang dimaksud ilmu, antara lain adalah ilmu (pengetahuan) tentang syarat dan rukun shalat, tata cara shalat nabi, sunnah-sunnah dalam shalat dan hal-hal yang membatalkan shalat. Oleh karena itu, bagi yang belum mengkaji tentang fiqih shalat, bersegeralah untuk mengkajinya.

Selain ilmu fiqih shalat, perlu juga diketahui tentang ilmu fadhail shalat (ilmu keutamaan shalat). Ilmu yang memberi ruh dan motivasi pelaksanaan shalat. Orang yang mengetahui tentang keutamaan shalat tentu akan berbeda semangatnya dengan orang yang tidak tahu sama sekali tentang keutamaan shalat, fungsi shalat dll. Fenomena shalat di akhir waktu, shalat secepat kilat, tergesa-gesa, shalat terasa menjadi beban, adalah salah satu akibat tidak memiliki ilmu fadhail shalat.

Ketika menyebutkan ciri-ciri orang yang bertakwa pada awal surah Al-Baqarah, Allah menerangkan bahwa menegakkan ibadah shalat adalah ciri kedua setelah beriman kepada yang ghaib (Al-Baqarah: 3). Dari proses bagaimana ibadah shalat ini disyariatkan, lewat kejadian yang sangat agung dan kita kenal dengan peristiwa Isra’ Mi’raj. Rasulullah saw tidak menerima melalui perantara Malaikat Jibril, melainkan Allah swt. langsung mengajarkannya. Dari sini tampak dengan jelas keagungan ibadah shalat. Bahwa shalat bukan masalah ijtihadi (baca: hasil kerangan otak manusia yang bisa ditambah dan diklurangi) melainkan masalah ta’abbudi (baca: harus diterima apa adanya dengan penuh keta’atan). Sekecil apapun yang akan kita lakukan dalam shalat harus sesuai dengan apa yang diajarkan Allah langsung kepada Rasul-Nya, dan yang diajarkan Rasulullah saw. kepada kita.

Shalat adalah ibadah yang terpenting dan utama dalam Islam. Dalam deretan rukun Islam Rasulullah saw. menyebutnya sebagai yang kedua setelah mengucapkan dua kalimah syahadat (syahadatain). Rasullah bersabda, “Islam dibangun atas lima pilar: bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, membayar zakat, berhajji ke ka’bah baitullah dan puasa di bulan Ramadlan.” (HR. Bukhari, No.8 dan HR. Muslim No.16).

Ketika ditanya Malaikat Jibril mengenai Islam, Rasullah saw. lagi-lagi menyebut shalat pada deretan yang kedua setelah syahadatain (HR. Muslim, No.8). Orang yang mengingkari salah satu dari rukun Islam, otomatis menjadi murtad (keluar dari Islam). Abu Bakar Ash Shidiq ra. ketika menjabat sebagai khalifah setelah Rasullah saw. wafat, pernah dihebohkan oleh sekelompok orang yang menolak zakat. Bagi Abu Bakar mereka telah murtad, maka wajib diperangi. Para sahabat bergerak memerangi mereka. Peristiwa itu terkenal dengan harbul murtaddin. Ini baru manolak zakat, apalagi menolak shalat.

Pentingnya Shalat.

Al Qur’an banyak sekali memuat perintah agar kita menegakkan shalat, baik dengan istilah “shalat” itu sendiri atau dengan istilah “iqamatush shalah” (mendirikan shalat). Al Qur’an juga menggambarkan bahwa kebahagian hidup adalah karena shalatnya yang dilakukan dengan penuh kekhusukkan. Allah swt berfiman : Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusuk dalam salatnya”. (QS. Al-Mu’minun [23] : 1-2). Shalat adalah amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Firman Allah swt : “ Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Au dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS. Thaha [20] : 14).

Diantara ibadah dalam Islam, shalatlah yang membawa manusia untuk berada dalam situasi terdekat dengan Allah. Dalam Islam, Allah bukanlah Dzat yang ditakuti, tetapi dikasihi dan disayangi, karena Dia adalah Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Itu sebabnya, Tuhan dalam Islam tidak perlu dibujuk-bujuk dengan memberi sesajen dan persembahan, tetapi harus didekati untuk mengingatnya. . Allah swt berfiman : “ (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengat mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”. (QS. Ar-Ra’d [13] : 28). Allah juga berfirman : “ Dan (ketahuilah) mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Ankabut [29] : 45).

Agar sholat seseorang hamba sempurna dan diterima oleh Allah swt, maka sholatlah seperti sholatnya Rasullah saw, beliau bersabda, “shalatlah sebagaimana kamu melihat aku shalat”. Melakukan semua gerakan shalat dengan benar, seperti gerakan shalat nabi, tidak tergesa-gesa, tumakninah, tidak ada gerakan tambahan selain gerakan shalat, pandangan mata ke tempat sujud (tidak terpejam). Memahami arti setiap gerakan. Dalam membaca bacaan shalat lakukan dengan tenang, tartil dan dilisankan (tidak hanya di dalam hati).

Mengetahui arti bacaan, terdengar oleh telinga sendiri, dihayati oleh fikirian dengan mengetahui maknanya. Dalam shalat fikiran harus memiliki kesibukan untuk mengartikan dan memahami setiap gerakan dan bacaan shalat. Jika ada sesuatu yang mengganggu fikiran, segera kembalikan pada kesibukan memahami bacaan shalat dan gerakan shalat. Menghayati seluruh gerakan shalat, menghayati seluruh bacaan shalat. Hadirkan rasa syahdu dalam bermunajat kepada Allah.

Disamping itu perlu juga diperhatikan tentang wudhu, karena wudhu adalah syarat syahnya shalat. Jika wudhunya tidak syah, maka shalatnya juga tidak syah. Tentang wudhu, kita juga harus belajar tata caranya, syarat-rukunnya, yang membatalkannya, sunnah-sunnahnya dll (fiqqih wudhu). Juga kita perlu mempelajari fadhail wudhu (keistimewaan wudhu) agar wudhu yang kita lakukan sesuai dengan contoh nabi, dan memiliki ruh dan penghayatan wudhu yang baik.

Sedangkan ancaman bagi yang enggan shalat, Rasulullah saw bersabda : “ Janji yang terikat erat antara kami dan mereka, adalah shalat, maka siapa yang meninggalkannya, berarti ia telah kafir.” (HR. ahmad dan ash-habus Sunan dari Burairah). Rasulullah saw juga bersabda : “Batas antara seseorang dengan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim, Ahmad dan as-habus Sunan).

Tidak memperoleh cahaya dihari kiamat, Rasulullah saw telah bersabda yang diriwayatkan oleh Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash : “Barangsiapa yang memelihara shalat, maka ia akan memperoleh cahaya, bukti keterangan, dan kebebasan pada hari kiamat. Dan orang yang tidak menjaga shalat, maka ia tidak akan mendapatkan cahaya, bukti keterangan, dan kebebasan, dan ketika hari kiamat dating ia akan dikumpulkan bersama Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Kalaf.” (HR. Ahmad, Tabrani dan Ibnu Majah).

Sholat lebih utama bila didirikan dengan berjamaah, terutama untuk pria. Allah swt berfirman : “ Dan dirikanlah shalat, tunaikan zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk. (QS. Al-Baqarah [2] : 43). Ada dua fakta tentang pentingnya sholat berjamaah, yaitu tentang Orang buta dan Orang yang tinggal di daerah tidak aman ternyata mereka tidak mendapatkan keringanan untuk meninggalkan shalat berjamaah di masjid.

Seorang pria buta mengadu kepada Rasulullah SAW, katanya : “ Ya Rasul, tiada seorang penuntun bagiku yang menolongku mengantar ke masjid, maka berilah keringanan untukku shalat di rumah. Kemudian, ia diberi keringanan oleh Rasul. Namun ketika ia tegak dan baru beberapa langkah pulang, Rasulullah SAW memanggilnya kembali, sabdanya: “Adakah kamu mendengar adzan shalat?”. Jawabnya : “Ya, aku mendengarnya”.  Sabda Rasul : “Untuk itu, hendaklah engkau penuhi panggilan (adzan) itu” (HR Muslim).

Seseorang mengadu kepada Rasullah SAW: “Ya Rasul, bahwasanya kota Madinah ini banyak binatang buas lagi kejam, yang tentu aku sangat khawatir atas keselamatanku. Lalu Rasulullah saw bersabda : “Adakah kamu mendengar Hayya alash-sholah, hayya alal falah?. Kalau mendengarnya, maka datanglah kemari (ke masjid) untuk memenuhinya”. (HR Abu Daud).

Jika saat ini, khususnya bagi laki-laki, belum istiqamah shalat berjamaah di masjid, Jika Rasulullah tidak memberi izin bagi orang buta dan orang yang tinggal di daerah rawan untuk meninggalkan shalat berjamaah di masjid, tentu bagi kita yang tidak buta dan yang tinggal di daerah aman tidak ada alasan untuk meninggalkan shalat berjamaah di masjid!.

Lakukan shalat khusyu di masjid (shalat berjamaah). Tapi jika harus memilih salah satunya, shalat berjamaah di masjid lebih utama. Bukankah Rasul saw, sangat membenci orang yang tidak mau hadir shalat berjamaah? Rasul juga menyetarakan orang yang tidak mampu shalat berjamaah dengan orang munafik, “Tiada yang lebih berat pelaksanaannya oleh seorang munafik, kecuali shalat Isya dan Subuh berjamaah…” (HR Bukhari, Muslim).

Sumber :
  1. DR. Amir Faishol Fath, http://www.dakwatuna.com/2007/dua-dimensi-shalat/
  2. http://belajarshalatkhusyu.blogdetik.com/
  3. Hafiz Muthoharoh, S.Pd, http://alhafizh84.wordpress.com/2009/11/02/sunnah-sunnah-shalat-sunnah-qauliyah/
  4. Akhmad Tefur, http://www.akhmadtefur.com/sholat-berjamaah/renungan-fakta-penting-tentang-shalat-berjamaah/
  5. Mahmud Al-Mishri, 400 Kesalahan Dalam Shalat.
  6. Ali Khamenei & Muhsin Qiraati, Rahasia dibalik Shalat.
  7. M. Khalilurrahman Al Mahfani, Buku Pintar Shalat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

VIDEO: Brutal, Puluhan Sepeda Diterjang Mobil

VIVAnews - Acara sepeda santai yang digelar 'Critical Mass' di Porto Alegre, Brasil, pada penghujung Februari 2011 kemarin, berubah jadi tragedi.

Puluhan pesepeda bergelimpangan di jalan akibat ulah pengendara mobil, Ricardo Jose Neis.

Saat itu sekitar 130 pesepeda tengah melintas di jalan raya. Mereka baru saja memulai aktivitas ramah lingkungan sesuai misi Critical Mass.

Saat tengah asyik bersepeda, tiba-tiba saja Neis yang mengendarai mobil VW-nya menerjang mereka dari belakang dengan kecepatan tinggi.

Puluhan pesepeda bergelimpangan di jalan akibat ulah pengendara mobil, Ricardo Jose Neis.

Sekitar 20 pesepeda jadi korban. Mereka terpental, bergelimpangan di jalan. Bahkan tidak sedikit di antara mereka tersangkut di kap mobil Neis berikut sepedanya. Para korban mengalami luka ringan maupun berat. Jerit tangis dan teriakan langsung membahana di jalan. Neis pun diamankan polisi.

Sekadar diketahui Critical Mass adalah sebuah acara bersepeda yang biasanya digelar pada hari Jumat terakhir setiap bulan, di lebih dari 300 kota di seluruh dunia.

Saksikan video brutal Neis di sini.

sumber : • VIVAnews http://dunia.vivanews.com/news/read/207196-video--brutal--puluhan-sepeda-diterjang-mobil


Video Tragedi Sepeda di Brazil