Sabtu, 18 Februari 2012

Buah Iman kepada Takdir Allah (Iman dan Aqidah)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Buah Iman kepada Takdir Allah  (Iman dan Aqidah)

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam.

Sebagaimana yang kami janjikan pada tulisan sebelumnya, kami akan nukilan beberapa perkataan ulama seputar buah dari iman kepada takdir Allah Ta’ala.

Iman kepada takdir Allah memiliki buah dalam hal iman dan aqidah, diantaranya adalah :

[1]. Melaksanakan Penghambaan Kepada Allah ‘Azza wa Jalla

Iman kepada takdir Allah merupakan bagian dari ibadah kepada Allah dan merupakan bagian dari kesempurnaan hamba dalam perwujudan peribadatan kepada Robnya. Setiap bertambahnya iman seorang hamba terhadap takdir Allah maka bertambah dan semakin sempurna pula perwujudan peribadatannya kepada Allah. Maka setiap hal yang ia alami baik merupakan hal yang ia benci sesungguhnya akan menjadi kebaikan baginya dan ia kan mendapatkan pahala yang sangat atasnya.

[2]. Terbebas dari Kesyirikan

Majusi (para penyembah api) berkeyakinan bahwa cahaya adalah pencipta kebaikan dan kegelapan adalah pencipta keburukan. Sedangkan qodariyah berkeyakinan sesungguhnya Allah tidak menciptakan perbuatan hamba namun hambalah yang menciptakan sendiri perbuatannya. Maka sebenarnya mereka telah menetapkan/berkeyakinan bahwa ada dua pencipta bersama Allah ‘Azza wa Jalla. Keyakinan sesat semacam ini adalah kesyirikan dan iman yang benar terhadap takdir Allah ‘Azza wa Jalla merupakan tauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Orang yang beriman terhadap takdir Allah mengetahui bahwa seluruh yang ada terjadi di bawah kehendak Allah, mengikuti ketentuan Allah. Allah adalah Dzat Yang Maha Memberi kepada siapa saja yang Dia kehedaki dan Dia adalah Dzat Yang Maha Menahan kepada siapa saja yang Dia kehendaki, tidak ada yang dapat menolak takdir dan hukum Allah. Hal ini merupakan bentuk pentauhidan kepada Allah, sehingga orang yang memiliki keyakinan semisal ini tidak akan mendekatkan dirinya dalam masalah ibadah melainkan hanya kepada Allah dan terhindar dari perbuatan kesyirikan semisal mengelus-elus kuburan orang sholeh (berharap hal tertentu akan terjadi padanya).

[3]. Mendapatkan Hidayah dan Tambahan Iman

Orang yang beriman kepada takdir Allah dengan iman yang benar dan berarti ia telah merealisasikan tauhidnya, menambah imannya, ia akan mendapatkan hidayah dari Robnya dengan mudah. Bahkan iman kepada takdir Allah itu adalah bagian dari bentuk hidayah Allah baginya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآَتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ

“Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya”. ( QS. Muhammad [47] : 17).

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya”. ( QS. Ath Taghbun [64] : 11).

[4]. Ikhlas

Iman terhadap takdir Allah akan menggiring pelakunya kepada keikhlasan. Maka ikhlas ini akan menjadi faktor pendorong baginya dalam seluruh amalnya dalam rangka melaksankan perintah Allah. Seorang yang beriman akan menyakini bahwa segala perkara adalah perkara yang Allah tentukan, semua kerajaan adalah milik Allah, kehendak Allah pasti terlaksana dan hal yang tidak dikehendaki Allah tidak akan terlaksana, tidak ada yang dapat menolak keutamaan dari Allah, tidak juga ada yang dapat menetang ketetapan Allah. Hal-hal ini akan menuntun orang yang mengimaninya kepada ikhlas dalam beramal kepada Allah dan menyucikannya dari cacat dalam beramal kepada Nya. Karena tidak adanya faktor pendorong untuk tidak ikhlas yang ada pada dirinya.

[5]. Tawakkal yang Benar dan Sempurna

Tawakkal kepada Allah adalah inti ibadah, tawakkal tidaklah benar dan lurus kecuali tawakkalnya orang yang beriman terhadap takdir dengan iman yang benar. Tawakkal dalam istilah di dalam syari’at maksudnya adalah mengahadapnya hati kepada Allah (ikhlas) ketika beramal, senantiasa memehon pertolongan dari Allah dan hanya berpegang/bersandar kepada Allah semata. Maka inilah rahasia dan hakikat tawakkal. Orang yang benar-benar melaksanakan tawakkal kepada Allah adalah orang yang juga mengambil sebab-sebab yang diperintahkan Allah, barangsiapa yang tidak mau mengambilnya maka tawakkalnya bukanlah tawakkal yang benar.

Jika seorang hamba bertawakkal terhadap Robnya, berserah diri kepadaNya, mempercayakan urusannya kepadaNya maka Allah akan anugrahkan kepadanya kekuatan, keinginan yang kuat, kesabaran dan Allah akan palingkan darinya malapetaka.

[6]. Takut kepada Allah

Orang yang beriman terhadap takdir Allah, anda akan temukan bahwa ia adalah orang yang senantiasa takut kepada Allah, khawatir jangan-jangan ia mati dalam keadaan su’ul khotimah (akhir yang buruk) karena dia tidaklah tahu apa yang akan terjadi padanya pada akhir hayatnya maka ia tidak akan pernah merasa aman dari makar Allah.

Jika demikian maka ia akan menganggap amal sholeh yang telah ia lakukan hanya sedikit sehingga ia tidak tertipu dengan amal sholeh yang telah ia kerjakan. Karena sesungguhnya hati manusia berada diantara jari jemari Allah Ar Rohman, yang hati tersebut Allah lah yang membolak-baliknya seseuai dengan kehendakNya. Sedangkan akhir perbuatan seseorang hanyalah Allah ‘Azza wa Jalla yang menentukan.
Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam mengatakan,

فَوَاللَّهِ إِنَّ أَحَدَكُمْ – أَوِ الرَّجُلَ – يَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ ، حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا غَيْرُ بَاعٍ أَوْ ذِرَاعٍ ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، فَيَدْخُلُهَا ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا غَيْرُ ذِرَاعٍ أَوْ ذِرَاعَيْنِ ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ ، فَيَدْخُلُهَا

“Demi Allah sesungguhnya seseorang diantara kalian ada yang beramal dengan amalan penghuni neraka hingga jarak antara dia dan api neraka hanya satu hasta atau satu depa namun takdir telah mendahuluinya lalu ia beramal dengan amalan penghuni surga sehingga ia masuk ke surga. Dan ada seorang yang beramal dengan amalan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga hanya satu atau dua hasta namun takdir telah mendahuluinya maka ia beramal dengan amalan ahli neraka sehingga memasukkannya ke neraka”[1].

[7]. Kekuatan Roja’ (Keinginan/Rasa Harap terhadap Sesuatu yang Dekat) dan Baik Sangka terhadap Allah

Orang yang beriman terhadap takdir adalah orang yang berbaik sangka terhadap Allah, dan memiliki sikap roja’ yang kuat. Hal ini karena ilmunya bahwa Allah tidaklah menetapkan suatu ketetapan kecuali ketetapan tersebut berupa keadilan, kasih sayang atau bijaksana (penuh hikmah).

[8]. Ridho

Orang yang beriman terhadap takdir Allah keadaannya dapat menjadi lebih mulia hingga tingkatan menjadi orang yang ridho. Barangsiapa yang ridho terhadap Allah maka Allah pun akan meridhoinya bahkan ridho seorang hamba terhadap Allah merupakan hasil dari ridho Allah pada hamba tersebut. Ridho Allah kepada akan segera datang dengan dua bentuk, [1]. Ridho Allah sebelumnya, yang menghasilkan ridho (hamba –ed.) kepada Allah dan [2]. Ridho Allah setelahnya yang merupakan buah dari ridho Allah (kepada hamba –ed.). Oleh karena itu ridho merupakan pintu Allah yang paling agung, surga di dunia, kesenangan orang-orang yang menghambakan diri pada Allah, penyejuk mata orang-orang yang merindukan pertemuan dengan Robbnya. Ibnul Qoyyim rohimahullah mengatakan, “Barangsiapa yang hatinya dipenuhi kecintaan terhadap takdir Allah maka Allah akan memenuhi hatinya dengan merasa cukup, rasa aman, qona’ah, alirkan hatinya terhadap kecintaan kepada Allah, merasa kembali kepadanya serta bertawakkal kepada Allah. Dan barangsiapa yang hilang darinya sebagian ridho terhadap takdir Allah maka Allah akan penuhi hatinya dengan sebaliknya, Allah akan membuatnya sibuk dari hal-hal yang akan membahagiakannya”[2].

Seseorang bertanya kepada Yahya bin Muadz, “Kapan seorang hamba akan mencapai tingkatkan ridho?” Beliau menjawab, “Jika jiwanya telah mendirikan/melakukan empat landasan/pokok terhadap hal-hal yang dengannya ia bermualamah dengan Robbnya, [1]. Ketika Allah memberiku (sesuatu –ed.) maka akan aku terima, [2]. Jika Dia mencegahku (dari sesuatu –ed.) maka aku akan ridho terhadapnya, [3]. Jika Dia mencegahku/melarangku (dari sesuatu –ed.) maka aku akan menjauhi hal tersebut, [4]. Jika Dia menyeruku (untuk melakukan sesuatu) akan aku akan merimanya/melaksakannya”[3].

Suatu hal yang harus diketahui adalah bukanlah syarat keridhoan bahwa seorang hamba tidak merasakan sakit, sesuatu yang dibenci melainkan (ketika itu terjadi) ia tidak berpaling dari aturan Allah dan tidak mencelanya[4].

[9]. Syukur

Orang yang beriman terhadap takdir Allah mengetahui bahwa nikmat yang ada pada dirinya hanyalah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Sesungguhnya Allah lah yang mampu untuk menghindarkan dari seluruh hal yang dibenci dan dimurkai. Maka pengetahuannya tersebut membawanya untuk mentauhidkan Allah dalam masalah syukur. Jika menimpanya hal-hal yang disenanginya maka ia akan bersyukur terhadap hal tersebut karena hal itu merupakan nikmat dan keutamaan dari Allah. Jika menimpanya hal-hal yang ia tidak senangi maka ia pun bersyukur atas takdir Allah atas dirinya karena menahan amarah, mencegah caci maki, memperhatikan adab dan bertindak sesuai dengan ilmu terhadap takdir Allah. Karena sesungguhnya ilmu dan adab kepada Allah akan menggiring pemiliknya agar bersyukur kepada Allah terhadap semua hal yang menimpanya baik yang ia senangi ataupun yang ia benci. Walaupun syukur untuk hal yang kedua lebih berat dan lebih sulit oleh karena itu syukur jenis ini lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan syukur jenis yang pertama.

Jika seseorang senantiasa bersyukur atas semua yang menimpanya maka nikmat Allah akan senantiasa tertuang untuknya dan mengalir untuknya karena syukur adalah pengikat nikmat yang telah ada dan pemburu nikmat yang hilang (belum ada –ed.). Allah Tabaroka wa Ta’ala berfirman,

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

“Jika kalian bersyukur maka akan aku tambah nikmatku”. ( QS. ‘Ibrohim [14] : 7).

Maka ketika engkau tidak melihat tambahan nikmat pada dirimu maka bersegeralah bersyukur pada Allah[5].

[10]. Kegembiraan

Orang yang beriman terhadap takdir Allah akan merasa senang dengan keimanannya ini yang mana sebagaian orang Allah cegah darinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

“Katakanlah, “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya (hidayah berupa iman,  amal sholeh, menjauhi kesyirikan dan maksiat)[6], hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan (berupa harta, unta dan sapi yang banyak)[7]”. ( QS. Yunus [10] : 58).

Selanjutnya orang yang beriman terhadap takdir Allah keadaan dirinya dapat meningkat dari keadaan ridho terhadap takdir Allah hingga mencapai bersyukur padanya atas apa yang ditakdirkan untuknya hingga akhirnya ia mencapai tingkatan senang dengan semua yang ditakdirkan Allah pada dirinya.

Ibnul Qoyyim rohimahullah mengatakan, “Kebahagian/kesenangan (terhadap takdir Allah) adalah nikmat hati yang paling tinggi, kelezatan dan keindahan. Maka kebahagian/kesenangan (terhadap takdir Allah) adalah nikmat Allah sedangkan kesedihan  (terhadap takdir Allah) adalah adzabnya.

Bahagia terhadap sesuatu derajatnya lebih tinggi daripada ridho terhadapnya karena ridho adalah rasa tenang dan lapang. Sedangkan bahagia adalan kelezatan dan keindahan. Maka setiap kebahagian sudah pasti telah ridho namun tidak setiap ridho adalah kebahagiaan. Oleh karena itulah kebagiaan merupakan lawan dari kesedihan dan ridho adalah lawan dari mencela/marah. Kesedihan membuat orang yang tertimpanya menjadi terluka sedangkan orang yang cacian/amarah tidaklah membuat pelakunya terluka kecuali orang yang tidak mampu untuk melawan/membalasnya, Allahu a’lam”[8].

[11]. Ilmu terhadap Hikmah Allah ‘Azza wa Jalla

Iman terhadap takdir Allah dengan cara yang benar dapat memberikan kepada manusia pemiliknya rasa hikmah terhadap  takdir Allah yang baik ataupun yang buruk.

Oleh karena itu banyak hal (yang wujudnya terlihat sebagai keburukan –ed.) yang terjadi pada kita lalu kita mengingkarinya padahal hal tersebut baik untuk kita. Demikian juga banyak hal yang wujudnya adalah kemaslahatan sehingga kita mencintainya padahal hal tersebut hikmahnya (sebenarnya bukanlah merupakan maslahat –ed.). Maka Dzat Yang Mengatur Manusia lebih mengetahui tentang maslahat dan dampak apa yang Allah perintahkan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. ( QS. Al Baqoroh [2] : 216).

[12]. Terbebasnya Akal dari Keyanikan Bathil dan Khurofat

Diantara hidayah yang akan didapat seseorang yang beriman terhadap takdir Allah, iman bahwasanya hal yang terjadi di alam semesta ini mengikuti takdir Allah ‘Azza wa Jalla, takdir Allah adalah sebuah rahasia yang terkunci rapat yang tidak ada yang tahu kecuali Allah serta tidak diperlihatkan kepada seseorang melainkan hanya kepada mahluk yang Allah ridhoi dari kalangan malaikat/rosul.

Dari sudut pandang ini maka anda akan dapati seorang yang beriman kepada takdir Allah tidak akan percaya kepada dukun, peramal dan tidak akan pergi mendatangi mereka. Dia tidak akan percaya perkataan, kepalsuan mereka sehingga dia akan selamat dari palsunya perkataan mereka kemudian dia akan terbebas dari keyakinan-keyakinan yang bathil dan khurofat.

[Diterjemahkan dengan perubahan redaksi seperlunya dari Kitab Al Iman Bil Qodho’ wal Qodar oleh DR. Muhammad bin Ibrohim Al Hamd hal. 89-98 terbitan Dar Ibnu Khuzaimah, Riyadh, KSA.]

Mudah-mudahan bermanfaat.
Sigambal, setelah subuh hingga waktu dhuha menjemput 21 Muharram 1433 H / 17 Desember 2011
Aditya Budiman bin Usman


[1] HR. Bukhori no. 6594
[2] Madarijus Salikin hal. 202/II.
[3] Idem hal. 172/II.
[4] Lihat Madarijus Salikin hal. 169-232/II.
[5] Lihat Madarijus Salikin hal. 199/II, 235/II dan 243/II
[6] Lihat Aisarut Tafaasiir oleh Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairiy hal. 373/II terbitan Maktabah Al ‘Ulum wal Hikaam Madinah, KSA.
[7] Idem
[8] Madarijus Salikin hal. 150/III.

sumber :  http://alhijroh.com/aqidah/buah-iman-kepada-takdir-allah-iman-dan-aqidah/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

VIDEO: Brutal, Puluhan Sepeda Diterjang Mobil

VIVAnews - Acara sepeda santai yang digelar 'Critical Mass' di Porto Alegre, Brasil, pada penghujung Februari 2011 kemarin, berubah jadi tragedi.

Puluhan pesepeda bergelimpangan di jalan akibat ulah pengendara mobil, Ricardo Jose Neis.

Saat itu sekitar 130 pesepeda tengah melintas di jalan raya. Mereka baru saja memulai aktivitas ramah lingkungan sesuai misi Critical Mass.

Saat tengah asyik bersepeda, tiba-tiba saja Neis yang mengendarai mobil VW-nya menerjang mereka dari belakang dengan kecepatan tinggi.

Puluhan pesepeda bergelimpangan di jalan akibat ulah pengendara mobil, Ricardo Jose Neis.

Sekitar 20 pesepeda jadi korban. Mereka terpental, bergelimpangan di jalan. Bahkan tidak sedikit di antara mereka tersangkut di kap mobil Neis berikut sepedanya. Para korban mengalami luka ringan maupun berat. Jerit tangis dan teriakan langsung membahana di jalan. Neis pun diamankan polisi.

Sekadar diketahui Critical Mass adalah sebuah acara bersepeda yang biasanya digelar pada hari Jumat terakhir setiap bulan, di lebih dari 300 kota di seluruh dunia.

Saksikan video brutal Neis di sini.

sumber : • VIVAnews http://dunia.vivanews.com/news/read/207196-video--brutal--puluhan-sepeda-diterjang-mobil


Video Tragedi Sepeda di Brazil